Sebelum Blockchain, Ada Distributed Ledger Technology

Perlahan, tapi pasti teknologi blockchain semakin familiar seiring popularitas Bitcoin yang meroket sejak kemunculannya pada 2009. Sebagai barang baru di dunia digital, blockchain sebagai wadah transaksi digital segera menarik perhatian, membuat penasaran, bahkan keberadaannya dianggap akan berpengaruh pada perubahan gaya transaksi digital secara besar-besaran.

Singkatnya, dengan teknologi blockchain, transaksi digital berjalan secara transparan, valid dan tidak perlu lagi menggunakan perantara bank. Tapi tentu saja ada banyak lagi ragam keunggulan blockchain, meski teknologi ini juga masih ada kekurangan jika salah penggunaan, serta butuh sejumlah pengembangan.

Namun tahukah Anda bahwa blockchain sebenarnya tidak sepenuhnya barang baru di dunia digital? Faktanya, blockchain merupakan bentuk evolusi dari bentukan pertamanya yakni teknologi ledger terdistribusi atau Distributed Ledger Technology (DLT) yang memiliki sejarah panjang di masa lalu. Meski begitu, tidak semua DLT adalah blockchain. Maka keberadaan artikel ini diharapkan membantu Anda mendapatkan wawasan yang lebih baik seputar asal usul blockchain dan kaitannya dengan DLT.

Informasi lainnya : Cara terbaik, contoh penerapan, implementasi blockchain

“Jika seseorang memahami perbedaan antara blockchain dan DLT, maka mereka akan dapat lebih memahami jika DLT berpotensi digunakan dalam area aplikasi yang tepat, kata director of the Institute for the Future Universitas Nicosia, George Giaglis.

Menurutnya, pemahaman yang benar tentang blockchain akan membuat kita lebih tepat menetapkan apakah blockchain merupakan metode yang disukai dari organisasi ledger terdistribusi atau tidak. Sebab tidak semua DLT adalah blockchain. Dengan memahami perbedaan antara keduanya, diharapkan dapat membantu pengusaha dan pemimpin bisnis menentukan solusi mana yang terbaik untuk mereka.

1. Pembangunan Blockchain

Penelusuran sejarah menunjukkan bahwa gagasan blockchain dimulai pada 1991. Kala itu peneliti Stuart Haber dan W. Scott Stornetta menulis sebuah makalah berjudul “How to Time-Stamp a Digital Document,” (Bagaimana Time-Stamp Dokumen Digital). Pada makalah ini diusulkan tentang prosedur praktis untuk sertifikasi ketika dokumen digital dibuat atau dimodifikasi.

Lebih dari satu dekade kemudian, tepatnya pada 2002, David Mazières dan Dennis Shasha melakukan pengembangan konsep berfokus pada bagaimana blok dapat menyimpan data. Mereka membuat makalah berjudul “Building secure file systems out of Byzantine storage” (Membangun sistem file aman dari penyimpanan Bizantium).

Para peneliti berfokus pada struktur data dan protokol sistem yang ada pada file yang disebut SUNDR (Secure Untrusted Data Repository). Ini merupakan semacam jaringan multi-pengguna yang menyoroti kemampuan blockchain untuk menyimpan data di setiap blok. Hasil penelitian tersebut sangat berarti untuk membangun kerangka kerja blockchain yang kita pakai saat ini.

Baca juga : Tentang Decentralized Finance (DeFi) di Indonesia

Selanjutnya, terobosan untuk teknologi blockchain kembali dilanjutkan pada 2005. Kala itu, seorang ilmuwan bidang komputer, Nick Szabo, mengusulkan mata uang berbasis blockchain yang sepenuhnya baru: Bit Gold. Ini merupakan salah satu upaya awal pada mata uang digital yang terdesentralisasi. Keberadaan mata uang ini diharapkan mampu menggeser kendali interaksi dari satu entitas ke entitas yang lebih kecil ketika transaksi digital berlangsung.

Szabo mengusulkan mata uang baru berdasarkan sejumlah pertimbangan, di antaranya menghitung serangkaian bit dari serangkaian bit tantangan serta memperkenalkan konsep-konsep inovatif seperti “fungsi puzzle klien”, “bukti fungsi kerja,” dan “fungsi tolak ukur yang aman.”

Meskipun ia memelopori fitur cryptocurrency seperti bukti kerja dan waktu, rupanya bit gold Szabo tidak dapat mengatasi masalah pengeluaran ganda dari transaksi elektronik. Kala itu para pengguna mata uang digital dapat menggandakan transaksi. Akibatnya, terjadi penghabisan uang digital yang sama karena penggunaannya berkali-kali.

Pengaplikasian blockchain makin cemerlang pada 2008 ketika seorang innovator tanpa nama yang menyebut dirinya Satoshi Nakamoto memperkenalkan uang versi tunai elektronik peer-to-peer. Ini memungkinkan transaksi online berlangsung antara dua pihak dan tidak lagi memerlukan pihak ketiga. Artinya, uang digital yang nantinya diberi nama bitcoin ini memungkinkan Anda bertransaksi digital tanpa perlu melibatkan perbankan sehingga bebas biaya tambahan.

Makalah Nakamoto juga mengusulkan solusi untuk masalah pengeluaran ganda pada bit gold dengan menerapkan server timestamp peer-to-peer terdistribusi. Nantinya akan dihasilkan bukti komputasi untuk urutan kronologis transaksi sehingga transaksi ganda bisa tercegah.

Proposal Nakamoto menjadi kenyataan pada 2009 ketika dia, atau mereka, menambang blok pertama. Dalam hal ini terjadi transaksi yang diverifikasi dan ditambahkan ke pangkalan rantai, sehingga rantai blok pun dimulai. Masing-masing blok berisi informasi tentang transaksi yang diverifikasi.

2. Memahami Distributed Ledger Technology (DLT)

Jauh-jauh hari sebelum Blockchain hadir, teknologi DLT sudah lebih dahulu teraplikasikan dan memiliki konsep yang lebih tua. Wajar saja jika teknologi DLT kerap disamakan dengan blockchain, karena ia merupakan salah satu yang menyumbang atas keberadaan blockchain saat ini. Tapi sebagaimana telah disinggung di awal, tidak semua DLT adalah blockchain.  Makanya, jangan sampai Anda mendapati kebingungan untuk membedakan antara keduanya.

Menurut Giaglis dari Universitas Nicosia, Blockchain dan DLT memiliki persamaan dari segi metode pengorganisasian catatan transaksi dalam database bersama yang didistribusikan. Tapi DLT adalah istilah umum yang mencakup semua jenis struktur, dan blockchain hanyalah satu dari hasil pengembangan teknologi DLT.

“Kita harus ingat bahwa buku besar terdistribusi tidak perlu membutuhkan blockchain,“ kata ketua professor dari Hong Kong University of Science and Technology’s Department of Information Systems, Business Statistics and Operations Management, Kai-Lung Hui. Ia melanjutkan, blockchain pun tidak harus selalu terdistribusi.

Meskipun pada nilai praktiknya ada sangat banyak pertanyaan tanpa karakteristik buku besar yang terdistribusi. Blockchain, Hui menjelaskan, mengacu pada cara unik menyimpan data menggunakan struktur “blok berantai” untuk memastikan integritas data menggunakan metode kriptografi.

Awal penggunaan DLT terdeteksi dimulai pertama kali oleh Kekaisaran Romawi. Mereka menyelenggarakan sistem perbankan yang memungkinkan orang untuk berpartisipasi dalam transaksi di seluruh wilayah milik kekaisaran. Eksplorasi lebih lanjut dari penerapan DLT di Kekaisaran Romawi datang dalam bentuk kertas cek, perannya meningkatkan, memperbarui dan mencatat transaksi.

Pada masa selanjutnya, pengaplikasian DLT terhambat karena dilema yang kemudian dikenal sebagai Byzantine Generals Problem (BGP). Mari menggunakan skenario sederhana untuk menjelaskan perihal BGP sebagaimana dijelaskan oleh Leslie Lamport, Robert Shostak, dan Marshall Pease dalam makalah mereka pada 1982.

Berikut ini analogi sederhana tentang BGP: Sejumlah jenderal yang memimpin pasukannya masing-masing ditempatkan secara strategis di luar wilayah musuh. Jenderal harus berkomunikasi dengan kurir untuk membentuk kesepakatan bersama. Tetapi bagaimana jika seorang jenderal yang korup bersekongkol melawan yang lain untuk mencegah mereka mencapai tujuan bersama? Begitulah kira-kira masalah general Bizantium.

3. DLT Dan Kaitannya Dengan Bitcoin

Bitcoin menyediakan protokol konsensus yang meyakinkan, yang disebut bukti kerja, untuk menyelesaikan BGP. “BGP adalah rintangan utama untuk pemrosesan terdistribusi secara besar-besaran, yang merupakan fondasi utama untuk teknologi Distributed Ledger,” kata Hui.

Masih menurutnya, pada proses tersebut, setiap orang harus bekerja secara individu – tanpa koordinasi atau komunikasi – untuk memelihara buku besar yang disinkronkan dan didistribusikan.  Hui mengungkapkan bahwa Bitcoin datang dengan solusi yang meyakinkan – dan sekarang terbukti – untuk membangun buku besar yang didistribusikan di Internet.

Seperti diketahui, bitcoin merupakan salah satu hasil dari penerapan Blockchain. Ia merupakan mata uang digital yang memiliki sistem pencatatan transaksi di banyak database. Pada Blockchain, catatan tersebut tersebar luas dan bisa diakses oleh publik karena menganut prinsip kerja desentralisasi.

Tidak ada administrator dalam Blockchain. Karenanya, salah satu keunggulan dari sistem ini ada pada transparansi dan keamanan datanya. Catatan transaksi yang terdesentralisasi juga menutup kemungkinan dari masalah peretasan maupun gangguan modifikasi yang merugikan dari administrator jahat.

4. Karakteristik Blockchain

Untuk mengenal lebih baik tentang blockchain, mari kita mempelajari karakteristiknya. Sederhananya, ini merupakan catatan transaksi digital dalam bentuk blok-blok, lalu blok itu saling terpaut satu sama lain. Seperti jaringan tanpa putus, ketika ada transaksi baru, akan terbentuk blok valid yang dikaitkan dengan blok sebelumnya.

Istimewanya, blok yang sudah masuk ke blockchain tidak akan bisa diubah lagi. Inilah salah satu karakteristik blockchain yang paling menonjol. Adapun uraian lebih rinci seputar karakteristik blockchain akan dijelaskan dalam uraian berikut ini:

Blockchain Bersifat Transparan Dan Open-Source

Ketika Anda ingin menggunakan bitcoin untuk melakukan transaksi digital, Anda akan diuntungkan dengan karakteristik pertama dari sistem blockchain yakni transparan. Seorang developer yang membaca kode blockchain akan bisa memverifikasi sendiri kode apa yang tertulis. Ia juga akan bisa menganalisis supply Bitcoin ataupun tingkat inflasinya untuk kebutuhan investasi.

Transparansi bukan hanya ketika ada transaksi digital saja, tapi juga Anda bisa menaksir berapa banyak uang baru yang akan dicetak di masa depan, atau berapa suku bunga bank digital di tahun depan. Ini disebabkan cryptocurrency memungkinkan semuanya terverifikasi dalam kode yang tertulis.

Sifat desentralisasi dari Blockchain

Tidak seperti database yang dikendalikan oleh administrator khusus, blockchain merupakan sistem tanpa pengendali. Jadi, semua orang bisa mengaksesnya, bisa membaca dan menulis di dalamnya serta melakukan validasi, tapi sama sekali tidak bisa memodifikasi, mengubah apalagi menghapus data yang ada di blok. Ini disebabkan kode blockchain tersebar di ribuan komputer yang terkait dengan jaringan blockchain.

Di blockchain, data selalu tersedia

Sifat blockchain yang transparan membuat pengaksesnya bisa mengetahui secara tepat sejumlah data penting seperti supply cryptocurrency, tingkat inflasi serta berapa banyak uang yang akan dicetak.

Data di blockchain bersifat kekal (immutable)

Ketika data transaksi sudah masuk ke blockchain dan tervalidasi, kita sudah tidak bisa lagi menghapusnya atau memodifikasinya. Data yang telah tersimpan itu bersifat immutable alias tidak bisa dibatalkan. Jadi, Anda harus benar-benar berhati-hati ketika ingin melakukan transaksi via blockchain.

Sebagai contoh, Anda ingin mentransfer dana untuk kebutuhan tertentu ke pihak kedua. Tapi dalam praktiknya, Anda kurang teliti sehingga uang transferan salah alamat. Uang tersebut tidak akan bisa kembali alias hilang sebab transaksi yang sudah divalidasi oleh blockchain tidak bisa dibatalkan. Satu-satunya jalan jika uang Anda ingin kembali adalah meminta si penerima transferan yang salah alamat itu mengembalikannya pada Anda secara sukarela. Tapi kemungkinan meminta dana kembali setelah salah transfer pun sulit dilakukan karena akses untuk mengontak pemilik sebuah alamat cryptocurrency sering kali tertutup.

Meski begitu, tentu saja ada sejumlah pengecualian di mana transaksi bisa dibatalkan ketika terjadi kekeliruan. Misalnya pada Ethereum. Dalam suatu kasus, pernah terjadi pembatalan transaksi ketika hacker berusaha mencuri dana.

Teknologi blockchain hampir tidak mungkin diretas

Para pemain uang digital atau sering disebut dengan miner alias penambang memiliki peran penting dalam penjagaan blockchain—selain mereka berbisnis untuk kepentingan pribadi. Keberadaan mereka juga secara tidak langsung ikut menjaga keamanan jaringan blockchain karena kekuatan dari komputer masing-masing miner.

Cara kerjanya, para penambang saling bersaing untuk menyelesaikan suatu perhitungan matematika. Ketika salah satu di antara mereka berhasil membuat blok baru di blockchain, aka nada imbalan yang diterima. Jika ingin menang dalam persaingan, para miner membutuhkan perangkat komputer yang kuat, sistem keamanan yang mumpuni, listrik yang mahal dan investasi lainnya yang secara tidak langsung akan bisa mengamankan blockchain dari serangan peretas.

Sekilas informasi, hacker setidaknya harus mengontrol 50 persen dari kekuatan komputer untuk melakukan peretasan. Mengapa blockchain sulit diretas? Sebab para miner membantu mengamankan jaringan dengan perangkat komputer mereka dan dominasi pengamanan pastinya di atas 50 persen.

Bentuk Lain Dari Teknologi DLT

Mata uang digital terdesentralisasi berdasarkan blockchain telah menarik perhatian umum. Di antara daftar mata uang digital yang paling populer yakni Bitcoin dan Ethereum. Meski begitu, produk hasil blockchain yang lainnya tidak menutup kemungkinan untuk menyalip posisi.

Misalnya IOTA yang digambarkan sebagai cryptocurrency untuk industri Internet of Things. Mata uang digital jenis ini tidak menggunakan konstruksi rantai. Makalah penelitian IOTA Foundation menegaskan, IOTA menggunakan fitur utama berupa token yang diarahkan untuk menyimpan transaksi.

Ada pula platform ledger open source yang mirip blockchain tapi menolak disamakan dengan blockchain. Ia bernama R3 Corda yang juga mengembangkan aplikasi yang terdesentralisasi. Meskipun awalnya dianggap berada di blockchain, R3 kemudian mengklarifikasi bahwa Corda bukan blockchain. “Tidak ada blockchain. Balapan transaksi di konflik menggunakan notaris pluggable,” tulis White Corda.

Dalam penjelasannya, mereka menerangkan bahwa Jaringan Corda bersifat tunggal dan dapat berisi beberapa notaris. Para notaris ini memberikan jaminan mereka menggunakan berbagai algoritma yang berbeda. Dengan demikian Corda tidak terikat pada algoritma konsensus tertentu.

Platform hashgraph Hedera menyediakan bentuk konsensus terdistribusi, cara bagi orang-orang yang tidak mengenal atau memercayai satu sama lain untuk berkolaborasi dan bertransaksi online dengan aman tanpa memerlukan perantara yang tepercaya.

“Platform ini cepat, adil, dan aman dan, tidak seperti beberapa platform berbasis blockchain, tidak memerlukan bukti kerja yang berat,” tulis situs web Hedera. “Secara alami, para peneliti dan perusahaan sudah mulai mengusulkan arsitektur distributed ledger non-blockchain,” kata Giaglis.

Kesimpulannya, blockchain nyatanya bukan benar-benar barang baru di dunia digital. Perintisannya telah dimulai jauh-jauh hari melalui teknologi DLT. Hingga kini, manfaat blockchain mungkin hanya bisa dinikmati oleh kalangan terbatas. Lagi pula, ini termasuk teknologi baru yang butuh banyak penyesuaian dan pengembangan.

Tapi di masa depan, tidak menutup kemungkinan blockchain akan menjadi andalan semua orang dalam bertransaksi digital. Karakteristiknya yang aman, transparan dan terdesentralisasi membuat kita tidak perlu lagi bergantung pada pihak ketiga untuk melakukan ragam pembayaran.

Ini tentu saja akan meringkas rantai transaksi serta menghemat waktu dan tenaga. Jadi, pengetahuan tentang blockchain harus sudah Anda miliki sejak dini agar bisa turut mengoptimalkan penggunaan Ragam teknologi digital yang kaya manfaat.

Informasi lain tentang teknologi Blockchain :

2 thoughts on “Sebelum Blockchain, Ada Distributed Ledger Technology”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *