Apa Itu Blockchain Dan Bedanya Dengan Database Biasa

Begitu banyak pertanyaan muncul terkait apa itu blockchain, seberapa pentingnya blockchain, dan kaitannya dengan database. Seringkali blockchain dan database disamakan karena sifatnya yang sama-sama menyimpan informasi. Namun, pada faktanya, mereka memiliki perbedaan yang cukup signifikan dari segi desain. Kita dapat menyebut blockchain adalah database, tetapi database bukanlah blockchain. Secara singkat, Blockchain dapat disebut database karena berperan sebagai buku besar digital yang menyimpan informasi dalam struktur data berbentuk blok. Sedangkan database juga menyimpan informasi, tetapi dalam struktur data berbeda yaitu berbentuk tabel. Selain itu, keduanya juga memiliki perbedaan dalam segi tujuan. Untuk lebih jelasnya, kita akan mengulas satu persatu mengenai database dan blockchain.

Database

Database merupakan sebuah struktur data yang digunakan untuk menyimpan informasi. Informasi ini dapat berbentuk data; salah satu contohnya adalah data yang dihasilkan dari penelitian dan pelaporan terstruktur yang digunakan oleh individu atau organisasi untuk mendukung keputusan bisnis, keuangan dan manajemen mereka. Sebut saja pemerintah, yang menyimpan jutaan dokumen dalam set data besar dengan menggunakan database.

Pada awalnya, database berkembang dari sistem hierarki flat file yang menyediakan pengumpulan dan penyimpanan informasi sederhana. Kemudian, database digunakan dalam model relasional yang memungkinkan cara pengumpulan data yang lebih rumit dengan menghubungkan informasi dari banyak database. Informasi yang disimpan dalam database dapat diatur dengan database management system. Database sederhana disimpan dalam elemen data yang disebut tabel. Ada beberapa fields dalam tabel yang menyetor data yang disebut atribut. Fields ini berisikan kolom dan baris yang menjelaskan dokumen apa saja yang diarsipkan dalam database.

Database dapat dimodifikasi, dikelola, dan dikendalikan oleh pengguna yang disebut administrator. Pengguna database berfungsi sebagai Admin DB yang memiliki kontrol penuh terhadap database. Pengguna ini dapat membuat, menghapus, memodifikasi, dan mengubah catatan apa pun yang disimpan dalam database. Mereka juga dapat melakukan administrasi pada database, seperti mengoptimalkan kinerja dan mengelola skalanya ke tingkat yang lebih mudah untuk dikelola. Database besar cenderung memperlambat kinerja, sehingga admin dapat menjalankan metode pengoptimalan untuk meningkatkan kinerjanya. Admin kemudian dapat mendelegasikan peran tertentu kepada pengguna lain yang memungkinkan mereka untuk mengelola database.

Contohnya, seorang admin dapat mendelegasikan pengguna lain yang memungkinkan mereka untuk menarik pengguna baru untuk database. Ketika terjadi kesalahan, admin dan delegasinya mempunyai akses untuk mengembalikan database dari cadangan (backup). Biasanya masalah seperti ini biasa terjadi di perusahaan, seperti ketika muncul masalah di server dan satu-satunya cara untuk memulihkan data adalah mengembalikan database dari cadangan. Database juga bersifat rekursif, artinya admin dapat mundur kembali untuk mengulangi tugasnya pada arsip tertentu, memodifikasi datanya atau bahkan menghapusnya. Seperti halnya ketika seorang pengguna atau admin yang dapat menghapus data lama yang sudah tak terpakai di database atau menghapus data-data yang sudah dicadangkan di database lain.

Database biasa diintegrasikan dalam sebuah server di perusahaan kecil maupun perusahaan skala besar. Satu atau banyak komputer harus terhubung ke server yang meng-host database agar lebih mudah mendapatkan informasi atau menyimpan data. Awalnya, database klien yang menggunakan koneksi ODBC harus dikonfigurasi terlebih dahulu oleh administrator agar komputer klien dapat terhubung ke database. Klien kemudian menjalankan software mereka untuk membangun koneksi yang lebih aman, di mana akses akan diberikan apabila sudah melalui proses autentikasi. Proses autentikasi ini dapat berupa akses yang dikonfigurasi langsung oleh admin atau lewat kata sandi yang di-input pengguna untuk masuk ke database. Para pengguna harus membuat akun agar mereka bisa mendapatkan akses karena sudah diautentikasi. Sebagai gantinya, kini banyak sistem yang menggunakan web interface, di mana pengguna masih perlu autentikasi untuk akses pribadi, sementara database publik dapat lebih mudah diakses dari situs web.

Karena membutuhkan suatu pihak untuk mengawasi dan mengontrolnya, database bisa dibilang sangat tersentralisasi. Dalam lingkungan produksi, Admin DB menentukan izin di mana informasi publik pada database hanya bisa dibaca dan tak bisa diubah. Mereka kemudian harus menetapkan serangkaian izin yang berbeda untuk pengguna yang dapat memperbarui dan menulis informasi ke database. Sentralisasi database ini menentukan keamanan dan kepercayaan pada sistem. Banyak database berjalan di server pribadi di balik firewall pusat data yang dijalankan oleh perusahaan besar. Database lainnya bisa di-hosting di penyimpan data yang tersedia untuk umum. Keduanya tentu masih memerlukan administrator untuk mengelolanya.

Blockchain

Blockchain adalah buku besar digital berbasis data yang tidak dapat diubah, terus berkembang, dan keamanannya dilindungi secara kriptografis. Blockchain menyimpan informasi dalam bentuk blok. Setiap blok berisi informasi hash dari blok sebelumnya untuk memberikan keamanan kriptografi. Hash menggunakan SHA256, yang merupakan fungsi hash satu arah. Informasi hash ini adalah data dan tanda tangan digital dari blok sebelumnya, dan sebelumnya lagi, sampai mencapai blok pertama yang diproduksi di blockchain tersebut. Hal ini disebut dengan “blok genesis”. Informasi itu dijalankan melalui fungsi hash yang kemudian terhubung ke blok sebelumnya. Struktur data blockchain adalah contoh Merkle Tree, yang digunakan sebagai cara yang efisien untuk memverifikasi data.

Untuk menambahkan sebuah blok ke dalam blockchain, diperlukan proses yang menggunakan game theory. Komputer yang berfungsi sebagai node dalam suatu jaringan, yang disebut “miners/penambang”, harus bersaing satu sama lain untuk menemukan nilai yang dihasilkan dari fungsi hash yang disebut nonce. Para penambang harus menggunakan sumber daya komputasi mereka untuk memecahkan nilai ini, dan ini membutuhkan perangkat keras komputer yang kuat. Protokol yang dibangun ke dalam blockchain, yang disebut ā€˜difficulty levelā€™, menentukan seberapa sulit atau mudahnya untuk menyelesaikan nilai tersebut berdasarkan apa yang disebut total hashing power dalam jaringan.

Ini berarti semakin banyak penambang, ā€˜difficulty levelā€™ akan menjadi lebih sulit. Ini karena dengan lebih banyak penambang, ada lebih banyak sumber daya komputasi yang tersedia di jaringan yang meningkatkan daya hashing, diukur dalam hash per detik atau h/s. Setelah penambang memvalidasi blok, mereka akan menerima hadiah sebagai insentif untuk menyediakan sumber daya komputasi mereka ke jaringan. Insentif adalah motivasi bagi node untuk menambang blok karena mereka mendapatkan hadiah dalam bentuk biaya transaksi dan koin. Dalam protokol Bitcoin, ini disebut algoritma konsensus Proof-of-Work.

Blockchain menggunakan distribusi jaringan nodes yang terdesentralisasi. Desentralisasi ini adalah ketika semua node di jaringan menyimpan salinan blockchain. Node menyimpan salinan lengkap (full nodes) dari blockchain, melakukan operasi penambangan, atau bahkan melakukan keduanya. Tidak ada administrator untuk memvalidasi blok transaksi. Penambang yang melakukan verifikasi harus menyelesaikan teka-teki kriptografi berdasarkan tingkat kesulitan sebanding dengan total daya hashing jaringan yang tersedia.

Blockchain menggunakan bentuk jaringan peer-to-peer atau P2P yang tidak memerlukan akses ke database pusat. Sebaliknya, semua node yang berpartisipasi dalam jaringan dapat terhubung satu sama lain. Tidak ada “master” yang mengontrol semua node. Satu peer sama dengan peer lainnya karena mereka dapat mengakses blockchain tanpa memerlukan akses administrator.

Jika seorang peer/nodes mencoba menipu, bisakah mereka memengaruhi jaringan?

Mereka bisa memengaruhi jaringan, asalkan mereka bisa memiliki sebagian besar hash power. Secara teori, peer ini dapat mengontrol jaringan apabila menggunakan apa yang disebut “Serangan 51%”. Artinya, peer harus memilikisumber daya komputasi yang sangat besar, karena semakin mahal biaya yang harus dikeluarkan jika ingin menyerang suatu jaringan dalam blockchain. Lebih menguntungkan menambang (mining) dan memakan sumber daya komputasi besar daripada sekedar untuk menyerang jaringan. Mekanisme dalam blockchain yang membuatnya aman adalah desentralisasi. Jika peer mencoba untuk mengubah informasi apa pun pada blockchain, itu akan memerlukan dukungan dari peer-peer lain untuk memvalidasinya. Ini menciptakan rantai terpisah dari jaringan utama dan itu hanya menjadi valid jika hasilnya lebih panjang dari rantai jaringan utama.

Contohnya adalah jaringan Bitcoin. Jaringan Bitcoin memiliki ribuan nodes. Jika ingin memanipulasi data di jaringan tersebut, Anda harus mengubah semua nodes yang ada di jaringan tersebut. Memanipulasi akan menjadi sangat sulit dan bisa menghabiskan biaya yang sangat besar. Hal ini lah yang membuat blockchain menjadi sangat aman dan tidak rentan terhadap manipulasi data, karena transparansinya dan jaringannya yang begitu luas tersambung satu sama lain.

Keuntungan Database :

  1. Dapat dikustomisasi agar semakin user-friendly.
  2. Stabilitas; mampu mengelola dan menyajikan data dalam jumlah yang besar.
  3. Bisa transaksi dalam jumlah besar dan dengan cepat.

Kekurangan Database :

  1. Kegagalan atau masalah muncul di satu titik, yaitu dari pihak utama yang mengurus sistem database tersebut (sentralisasi).
  2. Rentan; karena data dikelola oleh satu pihak utama. Apabila sistem utama diretas, data-data akan lebih mudah berpindah atau hilang.
  3. Isu keamanan; akun administrator menjadi kunci dari sistem utama database. Apabila ada permasalahan terkait akun admin, maka sistem akan menjadi rentan terhadap serangan atau bahkan bisa tidak dapat diakses lagi.

Idealnya, database dapat digunakan untuk:

  • Data yang perlu diperbarui terus menerus.
  • Pemrosesan transaksi online yang cepat.
  • Informasi rahasia (tidak transparan kepada publik).
  • Data keuangan dari pasar yang membutuhkan pemrosesan cepat.
  • Data yang tidak memerlukan verifikasi.
  • Aplikasi mandiri yang menyimpan data.
  • Data relasional.

Keuntungan Blockchain :

  1. Desentralisasi; apabila satu node down, sistem tidak akan sepenuhnya down juga.
  2. Transparansi; informasi dari setiap transaksi tidak bisa ditutupi karena semua nodes memiliki copy dari informasi tersebut. Meningkatkan kepercayaan dan nilai di sistem tersebut.
  3. Keamanan; menggunakan teknologi kriptografi canggih dan jaringan terdesentralisasi terdistribusi. Semakin susah untuk diretas.

Kekurangan Blockchain :

  1. Boros energi listrik; semakin tinggi kegiatannya, semakin memakan daya listrik yang tinggi.
  2. Skalabilitas; Dalam transaksi volume tinggi, blockchain tidak memiliki skala yang baik. Karena ukuran blok yang tetap, maka ada masalah dengan peningkatan volume transaksi.
  3. Ukuran. Ketika mereka bertambah besar, mereka mengonsumsi lebih banyak ruang untuk penyimpanan dan ini membuat kinerja mereka melambat. Ukuran blockchain yang lebih besar membutuhkan lebih banyak bandwidth untuk mentransmisikan ke node lain.
  4. Biaya transaksi yang mahal
  5. Interoperability; developer masih terus mencari cara untuk membuat blockchains yang berbeda dapat dioperasikan untuk membuat transfer nilai menjadi lebih sederhana.

Idealnya, blockchain dapat digunakan untuk:

  • Transaksi moneter
  • Transfer nilai / value
  • Verifikasi data tepercaya (identitas, reputasi, kredibilitas, integritas, dll.)
  • Verifikasi Kunci Publik
  • Aplikasi terdesentralisasi (DApps)
  • Sistem voting

Sumber : Hackernoon

One thought on “Apa Itu Blockchain Dan Bedanya Dengan Database Biasa”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *